Gejala Umum Anemia Hemolitik

Gejala Umum Anemia Hemolitik

Sumber: klikdokter.com

Sebelum mengetahui apa saja gejala umum anemia hemolitik, kamu harus mengetahui terlebih dahulu apa itu anemia hemolitik. Apa itu anemia hemolitik? Menurut alodokter.com anemia hemolitik adalah penyakit kurang darah akibat penghancuran sel darah merah lebih cepat dibandungkan pembentukannya. Dilansir dari halodoc.com pada keadaan awal, sumsum tulang belakang akan berusaha mengatasi kekurangan darah merah dengan menghasilkan sel darah dengan lebih cepat. Namun masalah akan terjadi ketika kondisi hancurnya sel darah merah sebelum waktunya terjadi secara terus menerus.

Faktor risiko dari anemia hemolitik akan terjadi kepada bayi yang baru lahir, memiliki keluarga penderita talasemia, menerima transfusi darah, mengonsumsi obat-obatan dan memiliki riwayat penyakit auto imun. Apa saja yang menyebabkan anemia hemolitik? Terdapat dua penyebab yaitu faktor keturunan dan didapat ketika sudah lahir.

Menurut alodokter.com penyebab anemia yang dipicu oleh faktor keturunan adalah:

  1. Defiensi Glucose-6-Phosphate Dehydrogenase (G6PD)

Ini adalah penyakit keturunan akibat kekurangan enzim G6PD. Apa itu enzim G6PD? Enzim ini membantu sel darah merah tetap berfungsi normal dan menjaga sel darah merah dari senyawa berbahaya. Sel darah merah akan pecah lebih cepat dari pembentukannya sehingga menyebabkan anemia ketika tubuh mengalami kekurangan atau defiensi dari enzim ini. Pengobatannya dapat dilakukan dengan cara menghilangkan pemicunya, namun bila cukup parah harus melakukan transfusi darah.

  1. Anemia sel sabit (sicle cell anemia)

Jenis anemia ini merupakan akibat dari kelainan genetik di mana bentuk sel darah merah tidak normal. Hal ini akan mengakibatkan pembuluh darah kekurangan pasukan darah sehat dan tentunya kekurangan oksigen yang akan disebar pada seluruh tubuh. Pada anemia ini, bentuk sel darah merah itu seperti sabit yang kaku dan mudah menempel pada pembuluh darah kecil. Aliran sel darah merah yang mengandung hemoglobin pembawa oksigen jadi terhambat dan akan menyebabkan nyeri dan kerusakan pada jaringan.

Untuk penyebab di luar faktor keturunan adalah:

  1. Efek samping obat-obatan

Ini bisa saja seperti efek samping dari zat kimia obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS), paracetamol, dan beberapa jenis antibiotik seperti levofloxacin, penisilin, metildopa, ribavirin dan sefalosporin.

  1. Gangguan Sistem Imun

Contohnya seperti penyakit lupus eritematosus.

  1. Transfusi darah yang tidak cocok.

Lalu apa saja gejala umum anemia hemolitik ini? Gejala ringan yang cenderung umum dialami adalah mudah merasa lelah, lemas, pusing, pucat, demam, sesak napas, detak jantung cepat, nyeri pada bagian dada dan perut, warna urine menjadi gelap, pembesaran hati dan limpa serta luka pada kaki.

Jika kamu merasakan gejalanya, segeralah berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan penanganan dan diagnosis yang tepat. Jika dokter menemukan indikasi anemia hemolitik, pemeriksaan akan dilanjutkan seperti dengan melakukan pemeriksaan darah lengkap, pemeriksaan sel darah tepi, dan LDH (serum laktat dehidtrogenase), tes urine, pemeriksaan skrining untuk defiensi G6PD, dan pemeriksaan pencitraan seperti ultrasonografi, eletrokardiografi, dan rontgen dada.

Bagaimana dengan pengobatannya? Dapat dilakukan dengan menerapkan terapi. Dilansir dari halodoc.com pengobatan dari anemia hemolitik adalah dengan terapi eritropoetin yang diberikan pada pasien gagal ginjal, kortikosteroid yang diberikan kepada pengidap anemia dengan penyakit autoimun, asam folat, dan imunoglobulin G intravena. Pada beberapa kasus yang memiliki tingkat yang lebih para, pasien dapat melakukan perawatan seperti operasi pengangkatan limpa yang dilakukan sebagai pilihan ketika hemolisis tidak merespon kortikosteroid dan transfusi darah yang biasa diberikan pekada pengidap anemia hemolitik dengan gangguan ginjal atau jantung.

Itulah hal-hal yang dapat kamu ketahui dari penyakit ini seperi penyebab dan gejala umum anemia hemolitik. Jika kamu penderita anemia jenis ini segera berkonsultasi dengan dokter untuk penanganna yang tepat.