Tanda-Tanda Reaksi Alergi Anak Usia Dini dan Cara Mudah Deteksi Mandiri

Tanda-Tanda Reaksi Alergi Anak Usia Dini dan Cara Mudah Deteksi Mandiri

Alergi anak bisa dideteksi lebih dini dengan berbagai cara. Orang tua bisa melihat riwayat alergi pada keluarga terhadap zat alergen tertentu, biasanya bahan makanan. Hal tersebut mungkin saja akan menurun ke buah hati seperti pada yang di ulas dalam link berikut https://www.generasimaju.co.id/alergianak/artikel/kenali/gejala-alergi-pada-kulit. Reaksi tidak normal yang ditunjukkan dengan gatal, ruam, ataupun kulit  memerah berkaitan dengan sistem kekebalan tubuh anak.

Orang tua pasti mengalami kekhawatiran lebih, ketika si kecil mulai menunjukkan reaksi alergi karena bisa saja berujung pada kondisi kesehatan yang memburuk. Oleh karena itu, anda lebih baik mencoba memprediksi lebih dini potensi alergi pada buah hati dengan cara-cara praktis berikut ini. Apabila sudah diketahui sejak dini. Maka bisa lebih tenang dalam memilih tindakan penyembuhannya.

  1. Waspada alergi yang muncul sebelum usia 1 tahun

Menurut berita yang diterbitkan Journal of Allergy and Clinical Immunology baru-baru ini, studi mengungkapkan bayi yang belum genap usia 12 bulan belum bisa menunjukkan tanda alergi terhadap bahan makanan. Sehingga cukup sulit untuk mendeteksinya di usia ini.

Apabila tubuh anak sudah menunjukkan sensitifitas alergi terhadap sesuatu, akan meningkatkan potensi terkena alergi makanan 16x lebih tinggi saat usia masuk tahun ke-3. Adapun vonis eczema pada bayi berumur 1 tahun, berpotensi 5x mengalami alergi.

  1. Berikan Variasi Makanan

Profesor dari Northwestern University’s Feinberg School of Medicine, Dr. Ruchi Gupta mengungkapkan jika pemberian makanan yang bervariasi pada anak adalah cara paling simple agar orang tua mengetahui sumber alergi dari zat makanan. Setiap orang memiliki patokan ragam makanan yang berbeda untuk diberikan kepada bayi.

Semua makanan, dari mulai olahan berbahan dasar seafood dan kacang-kacangan dikatakan perlu diberikan kepada anak yang berusia 1 tahun. Tentunya dengan cara pengolahan yang tepat untuk anak-anak. Cara ini ternyata cukup berhasil dengan tingkat kesuksesan mengetahui risiko alergi anak sebesar 80%.

  1. Pengaruh Faktor Genetik

Seperti yang sudah disebutkan di atas, faktor riwayat alergi yang dimiliki keluarga juga bisa meningkatkan risiko mencapai 13 persen. Tetapi, ketika pasangan tidak memiliki buah hati yang mengalami alergi sebelumnya, potensinya sebesar 8%.

Ketakutan orang tua pada anak mengalami tanda-tanda alergi seharusnya tidak menjadi suatu alasan untuk tidak memberikan makanan yang beragam di tahun-tahun pertama. Hal itu sangat diperlukan untuk mengetahui berbagai kemungkinan, salah satunya mendeteksi anak mempunyai alergi lain atau tidak.

  1. Pemberian Susu Formula dan ASI

Ketika ibu dan keluarganya sudah dikonfirmasi memiliki alergi tertentu, pemberian ASI tetap bisa dilakukan selama 6 bulan setelah kelahiran sesuai rekomendasi dari Departemen Kesehatan dan Anak. Secara bertahap, orang tua bisa mulai memberikan makanan pendamping setelah umur 6 bulan sampai 2 tahun.

Masalah alergi sering muncul pada pemberian susu formula. Apabila seorang ibu menemukan tanda-tanda alergi di tubuh anak setelah mengonsumsi susu tersebut, sebaiknya segera menemui dokter anak untuk berkonsultasi. Sistem imun di tubuh anak bisa saja mendeteksi susu sapi sebagai zat alergen sehingga perlu diganti dengan susu dengan kandungan elemen hypoallergenic.

  1. Mengetahui makanan pemicu alergi

Anda perlu tahu jenis-jenis makanan yang sering menjadi zat alergen di dalam tubuh manusia. Makanan-makanan tersebut yaitu kacang tanah, susu sapi, biji-bijian, gandum, ikan, kerang-kerangan, telur, dan kacang-kacangan.

Deteksi alergi anak bisa dilakukan secara mandiri oleh orang tua dengan memberikan variasi makanan di umur yang telah direkomendasikan. Jangan enggan menemui dokter anak untuk konsultasi seputar potensi dan pencegahan alergi.